Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko
"Kerja jauh dari usai, dan pengharapan selalu lebih panjang dari nafas..."

Bergabung


Berlangganan Newsletter

Dapatkan update newsletter dari budimansudjatmiko.net:

Sosialisme ala Lula
30 Nov -0001
Saat saya menemui Lula di kantor barunya, Instituto da Cidanania (Institut Warga Negara), di Sao Paulo pada petang hari tgl 23 Mei, kharismanya terpancar dari kebersahajaannya....

 

Saat saya menemui Lula di kantor barunya, Instituto da Cidanania (Institut Warga Negara), di Sao Paulo pada petang hari tgl 23 Mei, kharismanya terpancar dari kebersahajaannya. Saat itu Lula didampingi Luiz Dulci (mantan Menko Ekonomi Politik dan Sekjen Partai Pekerja).

Luiz Inacio da Silva (Lula) adalah presiden yang prestasi-prestasinya selama memimpin Brazil diakui oleh lawan-lawan politiknya maupun dunia. Sebagai tokoh Sosialis, dia dihormati oleh aktivis-aktivis gerakan sosial dalam Forum Sosial Dunia maupun dikagumi pebisnis dalam Forum Ekonomi Dunia.

Mematahkan Mitos

Dalam diskusi selama sekitar 1,5 jam, Lula dan Luiz menjelaskan bahwa apa yang coba diraih oleh Lula selama dua periode pemerintahannya adalah untuk melakukan ‘transformasi sosialis secara progresif dan tidak dogmatis’. Itu adalah arah pembangunan nasional yang baru bagi Brazil. Mantan pemimpin buruh ini mencoba mematahkan mitos-mitos neoliberalisme yang selama ini dipegang oleh pemerintah-pemerintah Brazil sebelumnya.

Dengan bahasanya yang mudah dicerna, Lula dan Luiz menjelaskan sejumlah mitos neoliberal. Di antara mitos-mitos tersebut adalah bahwa pemerintah harus mendorong lebih banyak ekspor karena susah untuk bersandar pada daya beli masyarakat Brazil (pasar domestik) yang rendah. Untuk mematahkan mitos tersebut, Lula mencoba mengembangkan ekspor sekaligus mengembangkan pasar domestik.

Hal ini dilakukan Lula dengan mendorong bank-bank milik  negara untuk memberikan lebih banyak kredit bagi perusahaan-perusahaan pertanian besar dengan bunga rendah 3% per tahun dengan sanksi yang tegas jika tidak melunasinya. Hasilnya adalah mereka jadi lebih produktif dan kompetitif untuk mengekspor produk-produk pertaniannya ke luar negeri.

Di lain pihak, sebagai pemerintahan yang berkomitmen meningkatkan harkat masyarakat miskin, khususnya kalangan petani (sekitar 3,5 juta keluarga tani miskin), bank-bank negara juga didorong untuk memberikan kredit namun dengan bunga negatif. Bunga negatif artinya petani-petani miskin bisa membayar hutang dalam jumlah kurang dari kredit yang diterimanya. Dengan demikian diharapkan petani menengah ke bawah bisa lebih produktif.

Dampak dari kebijakan ini, sekarang 70% kebutuhan  pangan masyarakat Brazil dipenuhi oleh petani-petani menengah ke bawah. Sebagai konsekuensinya, selama dua periode pemerintahannya, Lula berhasil membebaskan 24 juta rakyat Brazil dari bawah garis kemiskinan dan mengangkat 35 juta kelas menengah baru. Bahkan selama periode ke dua pemerintahannya, kelas menengah bertambah 10% tiap tahunnya.

Meskipun demikian, pemerintahan Lula juga tetap mengakomodasi sektor swasta dalam membangun perekonomian Brazil. Beberapa BUMN strategis, seperti Petrobras (minyak) atau Bank Brazil, dimasukkan ke Bursa Efek di mana  49% sahamnya diperdagangkan.dan 51% tetap dikuasai oleh pemerintah. Hal ini telah memungkinkan Bursa Efek Brazil (Bovespa) menjadi referensi penting di Amerika Latin.

Ada juga mitos lain seputar inflasi dan pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan sebelumnya. Mitosnya adalah bahwa perekonomian Brazil tidak boleh betumbuh lebih dari 2% agar inflasi bisa dikendalikan. Luiz Dulci, selaku mantan Menko Ekonomi Politik di era Lula, menjelaskan bahwa Lula berhasil memacu pertumbuhan 4% sampai dengan 5% per tahun (bahkan pada tahun 2010 bisa mencapai 7%) dengan angka inflasi yang tercatat terrendah dalam sejarah Brazil yaitu 4%. Padahal saat Lula baru mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan sebelumnya pada 2002, dia diwarisi inflasi hingga 16%.

Tentu tidak semuanya adalah kisah tentang kesuksesan. Lula mengakui bahwa ada satu kegagalan yang sangat strategis selama dua periode pemerintahannya. Kegagalan yang dia maksud adalah saat mengajukan RUU Pajak Progresif. RUU ini mewajibkan masyarakat kelas atas membayar pajak dengan prosentase yang lebih tinggi atas pendapatannya. Kegagalan ini disebabkan Partai Pekerja dan Partai Sosialis yang mendukungnya di parlemen hanya menguasai 30% kursi saja sehingga kalah voting.

Seandainya RUU ini lolos, diharapkan Brazil memiliki sumber pendanaan bagi lebih banyak proyek-proyek sosial untuk rakyat miskin, membeli mayoritas saham perusahaan-perusahaan asing dan juga membeli tanah-tanah perkebunan luas milik swasta untuk didistribusikan ke petani miskin.

Bantuan Tunai

Meski RUU Pajak Progresif tersebut tidak lolos, namun rakyat miskin tetap bisa ditolong saat Lula menggenjot program BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai bagian dari Program Bolsa Familia.

Dalam program ini, setiap keluarga miskin diberi Kartu ATM untuk mengambil uang tunai tersebut, sehingga transaksinya tercatat secara elektronik. Sistem ini diharapkan bisa mencegah penyalahgunaan politik ataupun kekacauan distribusi. Namun agar program BLT tersebut sungguh-sungguh bisa menopang kesejahteraan rakyat, maka keluarga penerima BLT diwajibkan menyekolahkan anak-anaknya dan rajin memeriksa kesehatan mereka di pusat-pusat kesehatan masyarakat. Keduanya secara  cuma-cuma. Jika gagal memenuhi syarat ini maka keluarga tersebut akan dikeluarkan dari program BLT.

Lula (yang harus meninggalkan diskusi lebih dulu karena melewati waktu yang dijadwalkan) bercerita pada saya dengan bergairah. Dari penuturannya saya menangkap kerinduan Lula pada negerinya dan dunia yang lebih baik.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, guru yang terpercaya bagi pegiat politik muda seperti saya adalah seorang tua yang sudah mempertanggungjawabkan tugas-tugas mulianya. Lula sekarang banyak menghabiskan waktu berkeliling Brazil dan dunia untuk berceramah. Sesekali di akhir pekan dia menonton Sepak Bola Liga Brazil dengan berpanas-panas di tribun kelas ekonomi bersama rakyat biasa yang dicintainya. Sebelum kami berpisah, Lula menyampaikan salam hangatnya untuk semua pembaharu sosial di Indonesia. Muito prazer em conhece lo, Presidente Lula.

 

* Budiman Sudjatmiko Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan; Pembina Utama Parade (Persatuan Rakyat Desa) Nusantara

Artikel ini pernah dimuat di Harian KOMPAS - Sabtu, 11 Juni 20011

 

 

 

Print Friendly and PDF

Tasyakuran lahirnya UU No. 6/2014 tentang Desa di Desa Sambak, Magelang diisi orasi oleh sejumlah tokoh diantaranya oleh Budiman Sudjatmiko, Wakil Ketua Pansus RUU Desa.

Budiman Sudjatmiko mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa pada awal-awal kuliah. Sekitar 4 tahun dia menerjunkan diri sebagai community organizer yang melakukan proses....

UU Desa dan Desa Melek Informasi dan Teknologi (DEMIT) adalah dua perangkat penting, untuk menuju nol kemiskinan di Indonesia.

Pembangunan ekonomi kita gagal. 104 Juta penduduk Indonesia dikategorikan miskin, bila menggunakan standar Bank Dunia penghasilan US$ 2 per hari...