Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko
"Kerja jauh dari usai, dan pengharapan selalu lebih panjang dari nafas..."

Bergabung


Berlangganan Newsletter

Dapatkan update newsletter dari budimansudjatmiko.net:

Rumah Aspirasi Ala Budiman Sudjatmiko
30 Nov -0001
Berita tentang Budiman Sudjatmiko dan hal-hal lain yang menjadi perhatiannya.

Saat sebagian besar para politisi tiarap, Budiman Sudjatmiko sebelum reformasi bergulir telah berani mengusung Partai Rakyat Demokratik (PRD) yangberhaluan kiri sebagai kendaraan politiknya. Namanya mulai berkibar ketika terlibat dalam berbagai aktifitas PDI-P saat perebutan Kantor Pusat partai moncong putih itu di Jalan Diponogoro. 

Dalam Pemilu legislatif 2009 lalu, Budiman terpilih sebagai anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VIII dengan memperoleh suara tertinggi. Setelah ditempatkan di Komisi II DPR, Budiman, dengan basis pemilihnya di Banyumas langsung tancap gas bergerilya, menemui dan menampung aspirasi konstituennya dengan mendirikan rumah aspirasi ala Budiman. Bagaimana cara Budiman Sudjatmiko dalam mengelola rumah aspirasinya, berikut penjelasannya kepada Pelita, di Jakarta, Minggu (8/8). 

Bisa dijelaskan rumah aspirasi yang anda dirikan ? 

Rumah aspirasi yang saya dirikan mulai Oktober 2009 setelah terpilih dan dilantik menjadi anggota DPR. Tiga hari setelah sidang MPR dan dilantik, saya langsung ke Banyumas meresmikan rumah aspirasi. Saya bersama teman-teman yang terkoordinasi melalui Tim Sukses pemilu dan dibantu relawan-relawan pemenangan di desa-desa. Saya mengaktifkan Tim Relawan waktu pemilu menjadi jaringan dalam rumah aspirasi. 

Apa saja program kerja rumah aspirasi ? 

Ada tiga, pertama program advokasi petani yang terlibat dalam konflik-konflik pertanahan. Kedua, program penguatan kapasitas desa, kebudayaan dan ketiga, kemerdekaan politik masyarakat. 

Bagaimana cara anda mendapatkan sumber pembiayaan rumah aspirasi ? 

Kebutuhan perbulan rumah aspirasi sekitar Rp 30 juta. Rp 20 juta diambil dari pendapatan saya sebagai anggoata DPR dan Rp 10 juta bersumber dari simpatisan-simpatisan saya di daerah yang ikut nyumbang. Ada beberapa orang, baik pengusaha maupun akademisi yang ikut nyumbang. 

Apakah kedepan rumah aspirasi seperti ini akan digulirkan di internal partai atau juga ke partai lain ? 

Kebetulan kami berkomunikasi dengan teman-teman satu partai maupun potensi-potensi lain dengan cara diskusi, kira-kira bagaimana caranya membangun rumah aspirasi, baik teman-teman dari Demokrat maupun dari Golkar. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya buat, itu yang terbaik, yang lainnya silakan saja mengembangkan dengan caranya sendiri. Yang pasti akhir-akhir ini banyak teman-teman dari partai dan daerah lain, datang berkeinginan untuk magang seminggu di rumah aspirasi. Contoh temah-teman dari Ponorogo datang ke rumah aspirasi ingin membuat hal serupa. 

Apakah itu berarti rumah aspirasi anda berarti terbuka bagi siapapun ? 

Terbuka sekali, baik dari PDI-P atau dari partai lain. 

Bagaimana pendapat anda atas wacana rumah aspirasi yang dibiayai APBN ? 

Pendapat saya dan partai kami biaya rumah aspirasi, lebih baik diserahkan ke partai masing-masing. Bukan dari dana negara, karena toh pendapatan anggota DPR kan setiap bulan ada dana komunikasi, dana penyerapan aspirasi dan uang reses, itu saja biayanya. Saya sejak dari awal mendanai rumah aspirasi dari sumber-sumber itu. 

Kapan biasanya anda datang ke rumah aspirasi ? 

Saya setiap bulan datang dua kali, meski tidak reses, saya tetap datang. Karena masih di Pulau Jawa, bisa naik kereta api, setiap Sabtu dan Minggu datang ke Banyumas. Bila tidak ada kegiatan sidang dan ada waktu, saya datang kesini. (encep azis muslim)  

 
Print Friendly and PDF

Undang-Undang Desa lebih konkrit dari Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). UUPA tahun 1960 ngatur yang diatas tanah, ngatur sumber daya alam yang ada di bawah tanah.

Harus diakui, Dilma tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Lula yang sukses menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi, memberantas kemiskinan...

Jika masa lalu kita mendengar istilah perangkat desa kering-kering sedap menjadi ngeri-ngeri sedap, dari tidak ada duit (kering) menjadi berduit atau banyak duit, jadinya ngeri-ngeri sedap...

Berita tentang Budiman Sudjatmiko dan hal-hal lain yang menjadi perhatiannya.