Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko
"Kerja jauh dari usai, dan pengharapan selalu lebih panjang dari nafas..."

Bergabung


Berlangganan Newsletter

Dapatkan update newsletter dari budimansudjatmiko.net:

Revolusi dan Evolusi Dalam Piala Dunia 2010
30 Nov -0001
Tiap kali Piala Dunia berlangsung, selalu ada 2 pertanyaan menarik yang dinanti-nantikan: pertama adalah “siapakah yang juara” dan yang kedua adalah “apa hal baru yang muncul di dalamnya”....

Ulasan Final Belanda VS Spanyol
Oleh: Budiman Sudjatmiko

“Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”
-Albert Einstein-

Tiap kali Piala Dunia berlangsung, selalu ada 2 pertanyaan menarik yang dinanti-nantikan: pertama adalah “siapakah yang juara” dan yang kedua adalah “apa hal baru yang muncul  di dalamnya”. Kita biasanya lebih akrab dengan pertanyaan pertama.

Padahal pertanyaan kedua tidak kalah substansial untuk dibahas. Mari kita renungkan secara jujur. Apakah kita lebih akrab dengan proposisi “Jerman juara dunia 1974” atau “total football”? Apakah kita lebih sering menggunakan proposisi “Italia juara dunia 1982” atau “catenaccio” ? Saya percaya anda akan memilih “total football” dan “catenaccio” sebagai kata yang lebih sering muncul dan bahkan digunakan.
Memang Jerman lah yang memenangkan Piala Dunia 1974, namun Belanda (runner-up) rupanya yang beroleh posisi terhormat dalam sejarah. Peradaban manusia itu adil dalam menyediakan ruang yang tinggi bagi inovasi dan kreativitas, hingga melampaui hasil akhir pertandingan. Jika demikian, pertanyaan yang pantas diajukan hari ini adalah “apa saja hal baru dalam Piala Dunia 2010?”.
Piala Dunia 2010 mencapai puncaknya dengan menetapkan Spanyol dan Belanda sebagai dua tim terbaik. Apapun hasil akhirnya, kedua tim ini sejatinya memiliki skema permainan yang sangat menarik untuk dicermati (secara pribadi, saya menyukai kedua tim ini, bersama-sama dengan Argentina).

Revolusi Tap Tap

Statistik pertandingan Piala Dunia 2010 (setidaknya hingga semifinal) memberitahu kita bahwa Spanyol adalah tim yang tampil secara ekstrem. Ada 5 parameter yang sangat superior dari tim La Furia Roja (Amukan Merah) ini, yaitu dinamika gerak (rasio jarak lari saat menyerang  dan bertahan 1,35), intensitas (rata-rata 697 operan per pertandingan), akurasi operan (81%), kecepatan (sekitar 4,25 detik/passing), dan panjang operan (32 operan per satu tembakan). Indikator-indikator di atas jauh melampaui tim-tim lainnya.

Angka-angka tersebut sesungguhnya tidak lazim. Lazimnya tim-tim dari Amerika Latin mendominasi dinamika permainan serta tingkat akurasi passing. Tim-tim Eropa biasanya mendominasi intensitas permainan, kecepatan dan panjang rantai operan.

Fakta tersebut menunjukkan tim Spanyol 2010 berhasil memadukan dinamika dan akurasi ala Amerika Latin dengan intensitas, kecepatan dan rotasi ala Eropa. Saya tidak tahu persis, apakah ini disebabkan karena Spanyol merupakan ibu kultural dari negeri-negeri Amerika Latin sehingga menghasilkan karakter permainan yang khas Ibero-America Latina. Tapi setidaknya simbiosis ini melahirkan sebuah permainan ala tari Tap Tap yang memiliki karakteristik yang sama. Ada inovasi baru dalam konsep permainan sepakbola Spanyol, yaitu Revolusi Tap Tap di mana filosofi dasar skema ini adalah meningkatkan frekuensi tembakan.

Sejarah selalu memberikan pelajaran wajib bagi kita bahwa tiap kali ada inovasi maka senantiasa ada resiko. Kecepatan dan intensitas permainan cara ini harus dibayar dengan efesiensi tembakan. Coba anda bayangkan seorang tentara yang menembak dengan cepat pada sasaran yang berpindah-pindah, maka dapat dipastikan semakin banyak peluru yang meleset. Inilah yang menjelaskan mengapa Spanyol menjadi tim dengan akurasi tembakan yang sangat buruk (hanya 38% tembakan akurat ke gawang dan 6,7% saja yang berhasil menjadi gol). Hal ini cukup menjelaskan mengapa sampai semi final, Spanyol hanya menghasilkan 7 gol saja.

Evolusi Total Football

Sekarang kita mengulas tim Belanda. Kita mengenali mereka sebagai tim total football. Pada skema ini seorang pemain dapat bertukar posisi dengan pemain lain dengan sangat bebas, namun tetap terstruktur. Filosofi ini diperkenalkan pertama kali oleh Rinus Michels, pelatih Belanda pada 1974.

Namun semenjak menjuarai Piala Eropa 1988, Belanda tidak lagi menorehkan namanya sebagai pemenang. Untuk itu Belanda kerap dijuluki “Juara Dunia Tanpa Mahkota”. Akibatnya, filosofi ini pun mulai dipertanyakan. Semenjak itu, pelatih-pelatih Belanda terus mencoba mengembangkan berbagai varian total football baru.

Pertanyaan klasik pun muncul kembali: apakah di Piala Dunia 2010 Belanda masih menganut total football?

Data-data ini memberitahu kita bahwa mobilitas permainan Belanda tetap tinggi (rata-rata seluruh pemain berlari 4,1 km pada setiap serangan). Ini artinya pada saat menyerang, hampir seluruh pemain bergerak maju. Data juga menunjukkan bahwa 41% pelanggaran dilakukan oleh pemain depan (gelandang serang dan penyerang). Keterlibatan pemain depan dalam membantu pertahanan begitu tinggi. Catatan ini menunjukkan bahwa Belanda masih menerapkan karakter-karakter dasar dari total football.

Namun, dalam Piala Dunia 2010 ini rupanya muncul pola baru. Pertama, Belanda cenderung bermain dengan keras. Mereka pelanggar terbanyak dan penerima kartu kuning terbanyak sepanjang turnamen. Hal ini cukup aneh dalam total football ortodoks yang terkenal elegan. Kedua, tim Oranye memiliki efisiensi tembakan terbaik selama Piala Dunia (51,2% tepat mengarah ke gawang dan 15% tembakan berhasil menjadi gol). Skema ini berlawanan dengan efisiensi tim Spanyol. Ketiga, semua parameter pola serangan (proporsi, intensitas dan arah crossing/tembakan/serangan) Belanda sangat mirip dengan tim Jerman sekarang.
Total football baru sejatinya adalah perpaduan antara total football ortodoks dengan gaya Jerman yang efektif atau “total football pragmatis”. Filosofi dasar total football baru ini adalah meningkatkan efisiensi tembakan.

Inovasi Tanpa Batas

Sistem sosial, budaya, ekonomi dan politik tiap waktu menempuh proses perubahan. Kita tahu itu. Inovasi dan kreativitas berperan kian vital dalam kompetisi di tengah-tengah tren sosial ekonomi saat ini (Hokky Situngkir, Journal of Knowledge Management, 2009). Hal ini juga berlaku dalam perkembangan sepak bola.

Partai puncak Piala Dunia 2010 mempertemukan dua tim dengan filosofi dan sejarah yang berbeda, yaitu manifestasi revolusi Tap Tap dan bentuk akhir evolusi total football. Siapapun yang menjadi pemenang, setidaknya sejarah telah mencatat, dua tim yang paling berani melakukan inovasi telah berada di puncak.

Kontes sepak bola terbesar sejagad ini mengajarkan banyak hal untuk kita refleksikan ke semua lapangan kehidupan. Kebijakan ekonomi, politik hingga solusi atas permasalahan sosial dapat pelajaran banyak dari sepak bola. Perspektif, metodologi dan penerapan kebijakan hendaknya dikembangkan secara inovatif dan kreatif agar kita dapat meloloskan diri dari ringkusan permasalahan bangsa selama ini. Hanya terobosan-terobosan baru yang bisa menyelamatkan Indonesia.

Pelajaran berharga dari negerinya Nelson Mandela, Steve Biko dan Christ Hani (para pemberani dalam perjuangan anti apartheid) ini adalah keberanian untuk mencari inovasi dan melakukan terobosan menghadapi kompleksitas tantangan, dengan cara memodifikasi penerapan nilai-nilai dasar yang baik. Bertahan dengan gaya lama yang ortodoks, hanya akan melahirkan “Juara Dunia Tanpa Mahkota” (sebagaimana selama ini disematkan pada tim Belanda) atau “Tim Cemerlang yang Dikutuk untuk Selalu Gagal” (sebagaimana yang selalu dikatakan orang tentang tim Spanyol). Keduanya kini ada di Final Piala Dunia 2010. Siapapun yang meraih juara dunia, pemenang sejatinya adalah inovasi, kreatifitas dan semangat juang.
*Anggota DPR dan Peminat Sepak Bola

 

Revolusi dan Evolusi Dalam Piala Dunia 2010.pdf

Print Friendly and PDF

Sosialisasi UU Desa oleh Budiman Sudjatmiko

Harus diakui, Dilma tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Lula yang sukses menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi, memberantas kemiskinan...

“Alhamdulillah, ditengah saya lagi kebingungan seorang diri karena kehilangan, saya dipertemukan Allah Swt dengan sahabat yang sudah 20 tahun berpisah dan ketemunya justru di Masjidil Haram di Makkah al Mukarramah, tanah haram yang sangat mulia ini,”

Polemik yang beredar atas keberadaan UU Desa, Perkumpulan Qbar bekerja sama dengan Perkumpulan Huma dan Fakultas Hukum Universitas Andalas mengadakan diskusi...