Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko
"Kerja jauh dari usai, dan pengharapan selalu lebih panjang dari nafas..."

Bergabung


Berlangganan Newsletter

Dapatkan update newsletter dari budimansudjatmiko.net:

Budiman Sudjatmiko: Politisi Muda yang Lugas dan Enerjik
06 Mar 2014

Sosok politisi muda di Indonesia kian eksis di kancah perpolitikan Indonesia. Meski jumlahnya masih belum sebanyak politisi ‘tua’, mereka yang muda layak untuk diperhitungkan kiprahnya. Salah satunya Budiman Sudjatmiko.

Politisi muda ini dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1970 di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Ia merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Ia lantas tumbuh besar di Cilacap, Bogor dan Yogyakarta di tengah keluarga yang menanamkan nilai-nilai keagamaan, nasionalisme dan kepedulian

Sejak duduk di bangku SMP ia aktif dalam berbagai kegiatan diskusi dan organisasi. Tak heran jika pada awal masa perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, ia terlibat dalam gerakan mahasiswa.

Kemudian, selama kurang lebih 4 tahun, ia menerjunkan diri sebagai community organizer yang melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibat kegiatannya ini pula, ia tidak sempat menyelesaikan kuliahnya.

Pada tahun 1996, ia mendeklarasikan PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang kemudian membuatnya dipenjara oleh pemerintah Orde Baru dan divonis 13 tahun penjara. Karena kemenangan gerakan demokrasi, ia hanya menjalani hukuman selama 3,5 tahun setelah diberi amnesti oleh Presiden Abdurrahman Wahid (alm) pada tgl 10 Desember 1999.

Selepas dari penjara, ia lantas kuliah Ilmu Politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.

Setelah kembali ke Tanah Air, pada akhir 2004 ia bergabung ke PDI Perjuangan, dan membentuk REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi), sebuah organisasi sayap partai. Saat ini, ia adalah anggota DPR RI dari PDI Perjuangan (dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII: Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap) dan duduk di komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, dan agraria.

Pada level internasional, ia juga aktif sebagai Steering Committee dari Social-Democracy Network in Asia (Jaringan Sosial-Demokrasi Asia). Saat ini, ia juga memegang posisi sebagai Pembina Utama di Dewan Pimpinan Nasional organisasi PARADE NUSANTARA, yaitu organisasi yang menghimpun para kepala desa dan seluruh perangkat desa di seluruh Indonesia.

Sumber: salmanitb.com

Print Friendly and PDF

Undang-Undang Desa lebih konkrit dari Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). UUPA tahun 1960 ngatur yang diatas tanah, ngatur sumber daya alam yang ada di bawah tanah.

Ini adalah refleksi perjalanan perjuangan saya dalam pemberdayaan masyarakat dan untuk mengubah sistem menuju Indonesia yang lebih baik....

Pembangunan ekonomi kita gagal. 104 Juta penduduk Indonesia dikategorikan miskin, bila menggunakan standar Bank Dunia penghasilan US$ 2 per hari...

"Para politisi mungkin cita-citanya ingin menjadi presiden. Saya tidak bercita-cita menjadi presiden,"